Bisnis Jastip Luar Negeri, Bisnis Populer Bagi Para Traveler

  • Whatsapp

Traveling sekarang menjadi gaya hidup bagi semua orang. Traveling menjadi sarana untuk melepaskan penat dari kesibukan sehari-hari. Merasakan indahnya dunia luar, hidup dengan budaya yang berbeda, hingga mencicipi kuliner khas seperti halnya para Turis yang datang ke Indonesia tentunya pasti selalu ingin mencicipi kuliner yang ada di Indonesia yang akan menjadi nilai tersendiri dalam traveling.

Ketika sedang berjalan-jalan ke luar negeri, pastinya kita menemukan sesuatu yang khas dari negeri tersebut, entah kerajinan tangannya, makanannya, pakaiannya, dan lain-lain. Terbesit keinginan untuk membawanya ketika kembali dari luar negeri mengingat barang tersebut tidak dijual di negeri sendiri. Beberapa turis pasti membawa oleh-oleh dari negara tujuan karena ingin sekali dibagi-bagikan ke keluarga atau kerabat terdekat.

Bacaan Lainnya

Di kalangan traveler, berkembang jasa titip (atau sering disingkat jastip) barang luar negeri ketika traveler memang merencanakan untuk liburan sambil mencari rejeki tambahan. Ini cocok sekali bagi yang menginginkan barang luar negeri tapi terhalang oleh waktu dan kondisi. Bisnis jasa titip ini juga diminati oleh pelanggan yang ingin membeli barang bermerek tertentu dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan ketika membeli barang di negeri sendiri.

Pastinya traveler harus memiliki tujuan yang memang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya, dan traveler bisa memberitahukan terlebih dahulu barang-barang apa saja yang mau dititip sehingga ketika pemberi jasa sudah tiba di negara tujuan, pemberi jasa tinggal mencari barang yang diinginkan pelanggan. Biasanya pelanggan harus membayar terlebih dahulu sesuai dengan harga barang dan harga jasa yang ditentukan oleh traveler, dan dituntut untuk saling percaya baik dari sisi traveler maupun pelanggan tersebut. Begitu pemberi jasa telah balik ke negera asal, pemberi jasa siap mengirimkan barang-barang pesanan pelanggan sesuai dengan perjanjian awal sebelum membeli.

Meskipun terlihat menguntungkan, tetapi sebenarnya ada beberapa tantangan dalam menjalankan bisnis ini. Tantangan ini ada ketika traveler telah kembali dan harus melewati bea dan cukai di bandara. Menurut peraturan terbaru yang dikeluarkan oleh bea cukai, setiap orang diperkenankan untuk membawa maksimal 500 dolar per orang agar terbebas dari pajak. Membawa lebih dari ketentuan akan dikenakan bea masuk sesuai tarif impor barang, dan besaran pajaknya tergantung dari harga barang yang dibawa.

Bahkan terkadang barang titipan yang bernilai di bawah 500 dolar saja masih tetap akan diperiksa oleh bea cukai jika mereka menemukan sesuatu yang menurut mereka mencurigakan. Alhasil, traveler mau tidak mau harus menyiasatinya dengan membuat barang-barang yang dibeli telah digunakan, meskipun terkadang cara ini tidak mampu meluluhkan petugas bea cukai.

Belum lagi jika traveler memberlakukan sistem pembayaran biaya barang dan jastip jika traveler sudah membeli barang tersebut di tempat. Otomatis traveler harus membawa dana yang lebih untuk membeli pesanan tersebut. Belum lagi jika ada beberapa calon pembeli nakal yang mendadak tidak bisa dihubungi sama sekali, alhasil traveler jadi merugi akibat ulah pembeli nakal tersebut. Selain itu traveler harus siap menenteng semua barang pesanan pembeli, dan akan terasa lebih capek ketika layanan jastip ini dilakukan sendiri (solo traveler). Apalagi jika barang pesanan jauh lebih banyak dari yang seharusnya, otomatis akan menjadi sasaran bagi petugas bea cukai untuk mengenakan pajak masuk dari barang bawaan tersebut.

Meskipun begitu, tantangan tersebut tidak menyurutkan niat para traveler yang membuka layanan tersebut. Bahkan dari jasa tersebut traveler bisa mendapatkan keuntungan yang cukup besar, bisa mengembalikan uang yang telah digunakan untuk akomodasi selama berada di negara tujuan, bahkan bisa lebih dari beban-beban yang telah dikeluarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *