Kajian Seni dan Budaya Ciletuh Geopark

  • Whatsapp

Pemetaan seni budaya dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Aspek seni budaya Ciletuh

“Potret” potensi Budaya “Ciletuh” adalah sekumpulan potensi kehidupan masyarakat yang meliputi berbagai aspek: 

Read More

  • Pendidikan,
  • Lingkungan (sawah, ladang, hutan, bukit, sungai, laut dll.);
  • Seni (tari, musik, teater, sastra, wayang, permainan, beladiri, dll.);
  • Adat-istiadat (ritus kehidupan: bumi, manusia, dll.);
  • Permukiman (…..),
  • Kepercayaan (agama, mitos, legenda),
  • Bahasa (dongeng, legenda, mitos, dll.)
  • Pertanian (ladang (huma), sawah),
  • Arsitektur (rumah adat, saung, bale-bale, leuit, dll.); Kuliner (berbagai jenis makanan),
  • Sejarah, dan lain-lain.

Masing-masing aspek mempunyai bagian-bagiannya sendiri namun bagian-bagian itu bersifat atomik. Pada intinya, masing-masing aspek kehidupan tidak berdiri sendiri, melainkan mempunyai keterkaitan dengan aspek lainnya (cross referense). Oleh sebab itu, satu aspek tidak akan lepas kaitannya dengan aspek lainnya.

Kajian potensi budaya Ciletuh diharapkan dapat memberi gambaran tentang kondisi kehidupan sosial-budaya-alam-lingkungan masyarakat tersebut, dulu dan kini. Gambaran itu sangat berkaitan dengan tujuan dan program Pemda Jawa Barat (melalui Disparbud-Bid. Kebudayaan) yang akan menjadikan Ciletuh sebagai Geopark internasional (2017) pada waktu untuk salah satu destinasi wisata dunia. Dari bobot atau fokusnya, upaya kajian itu lebih merupakan wilayah kerja akademik yang implementasinya harus dikerjakan dengan serius dan melibatkan berbagai keahlian. Hasilnya, tentu saja harus bisa dipertanggungjawabkan.

Metode kajian

Metode kajian menggunakan pendekatan emik dan atau etnografi. Pendekatan itu dipilih untuk menghimpun data sesuai dengan apa yang terdapat di lapangan. Wilayah kajian meliputi 14 desa yang tersebar di dua kecamatan, Ciemas dan Ciracap dan terus bertambah seiring perluasan zona Geopark.

Jumlah tim pengkaji ada 11 orang pada saat itu dengan berbagai kompetensi. Hasil akhir kajian akan berupa buku dan diharapkan selesai pada bulan Agustus 2016. Bidang kajian mencakup:

Bidang kajian

1.Seni-Budaya

Kajian berdasarkan kategorisasi seni-budaya yang hidup di 14 desa pada saat itu dari dua kecamatan: Ciemas dan Ciracap meliputi: Tari, Musik, Teater, Rupa, Ritus, Bela Diri, Permainan, dll.

2. Geologi

Kajian potensi alam-lingkungan di 14 desa dari dua kecamatan: Ciemas dan Ciracap meliputi: Keragaman hayati dan geologi (tumbuh-tumbuhan, dataran, lautan, dan pegunungan), dll.

3. Bahasa

Kajian potensi bahasa di 14 desa dari dua kecamatan: Ciemas dan Ciracap meliputi: Mitos, legenda, dongeng, dll.

4. Sosiologi-Antropologi

Kajian potensi kehidupan sosial di 14 desa dari dua kecamatan: Ciemas dan Ciracap meliputi: Sistem kemasyarakatan, mata pencaharian, Adat-istiadat (tradisi), dll.

5. Sejarah

Kajian potensi kesejarahan di 14 desa

6. Psikologi

Hasil kajian dari masing-masing akan diedit oleh Dr. Suhendi Apryanto.

Dokumentasi

Bidang Dokumentasi dan Arsip (dokumentator), mencakup dua agenda pokok: mendokumentasikan dan mengarsipkan.

Pendokumentasian adalah pembuatannya, seperti merekam, memvideo, dan memotret.

Pengarsipan adalah kegiatan mengumpulkan dan sekaligus mengelola, sehingga dokumen menjadi terpelihara, tidak berkurang dari jumlah maupun kualitas atau resolusinya.

Karena itu, bidang dokumentasi/pengarsipan akan mencakup wilayah yang lebih luas sesuai dengan kehidupan sosial budaya yang telah dipetakan di atas.

Sumber audio-visual (video) merupakan yang paling banyak memberi kelengkapan informasi, karena dari dokumen serupa itu kita bisa melihat dan mendengar. Akan tetapi, semua hal memiliki kelemahan atau kekurangan.

Untuk menguraikannya menjadi naskah tertulis, memerlukan keahlian dan pengetahuan tersendiri. Selain itu, kamera apapun, dan seberapa banyak pun, tidak mampu mendokumentasikan segalanya. Demikian pula foto, mempunyai kelebihan dan kekurangannya.

Namun format dokumen itu sangat diperlukan, bukan saja sebagai pelengkap atau pendukung naskah, melainkan sebagai arsip yang sangat berguna sebagai sumber pengetahuan, sejarah, pendidikan, pariwisata, dll.

Inti pengelolaan dokumentasi terletak pada mengelola “inti”-nya, yakni metadata (data atas data). Dengan menggarap database pada level metadata, informasi itu akan melekat (embed) dengan datanya, sehingga ia akan selalu turut ke mana pun suatu dokumen dimasukkan atau dipindahkan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *